Rektor ITB: Indonesia Harus Keluar dari “Middle Income Trap” Lewat Sains dan Teknologi

Foto: Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara (kiri) bersama Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda (kanan)   METROHEADLINE.NET, Jakarta — Rektor Institut Teknologi Bandung,..

Foto: Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara (kiri) bersama Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda (kanan)

 

METROHEADLINE.NET, Jakarta — Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara, menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM), sains, dan teknologi sebagai fondasi utama agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi negara sejahtera.

Hal itu disampaikan Tatacipta saat ditemui wartawan di Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026), usai membahas pengembangan pendidikan bersama jajaran Pemerintah Provinsi Maluku Utara.

Menurutnya, ITB sebagai perguruan tinggi negeri memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya mengejar status universitas kelas dunia, tetapi juga tetap relevan bagi kepentingan bangsa.

“Indonesia ini sedang berada di persimpangan. Mau terus menjadi negara kelas menengah atau menjadi negara sejahtera. Kalau ingin menjadi negara sejahtera, maka kita harus menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi, dan itu hanya bisa dicapai melalui sains dan teknologi,” ujar Tatacipta.

Ia menegaskan, sudah saatnya ITB turun langsung memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional melalui pendidikan dan pengembangan SDM unggul di berbagai daerah, termasuk di Maluku Utara.

“Core business ITB adalah mempersiapkan pendidikan untuk sumber daya manusia. Karena itu, pengembangan pendidikan di daerah juga menjadi hal yang sangat penting,” katanya.

Tatacipta menjelaskan, ITB saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjalankan dua misi sekaligus, yakni menjadi universitas berkelas dunia dan tetap berpihak pada kebutuhan masyarakat Indonesia.

Menurutnya, sistem pendidikan tinggi tidak boleh hanya menguntungkan wilayah perkotaan semata. Karena itu, ITB berupaya membuka akses lebih luas bagi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita ingin seluruh titik di Indonesia memiliki wakil yang bisa berkuliah di ITB. Jangan sampai hanya daerah perkotaan saja yang mendominasi,” ujarnya.

Untuk mendukung hal tersebut, ITB terus memperbesar dana bantuan pendidikan bagi mahasiswa kurang mampu. Tatacipta mengungkapkan, pada 2020 ITB berhasil menghimpun dana beasiswa sebesar Rp50 miliar, meningkat menjadi Rp80 miliar pada 2023, dan mencapai Rp120 miliar pada 2025.

Dana tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari alumni, kerja sama, hingga dukungan berbagai pihak lainnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa biaya kuliah di ITB semata-mata bersifat komersial. Menurutnya, pendidikan berkualitas memang membutuhkan biaya besar, namun pembiayaan itu seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

“Pendidikan yang baik itu pasti perlu biaya. Tinggal siapa yang membantu membayarnya, apakah orang tua, pemerintah daerah, CSR perusahaan, atau pihak lainnya. Jadi semangatnya adalah gotong royong,” jelasnya.

Terkait status perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), Tatacipta menilai kemandirian kampus tidak boleh dimaknai sekadar sebagai orientasi komersial.

“Mandiri itu artinya kita bisa menentukan arah pengembangan sendiri, mandiri secara finansial, dan mandiri dalam sumber daya. Tapi bukan berarti institusi pendidikan harus mencari keuntungan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Tatacipta juga menanggapi isu keterlibatan perguruan tinggi dalam program pemerintah, termasuk program MBG. Ia menegaskan, ITB siap berkontribusi sepanjang dilakukan secara profesional dan dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi kampus.

“Kalau ITB membuat sesuatu, tentu harus menjadi model yang proper dan bisa menjadi laboratorium pembelajaran juga,” ujarnya.

Sementara terkait peran perempuan dalam pengembangan industri strategis seperti baterai dan hilirisasi teknologi, Tatacipta menegaskan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam dunia sains dan teknologi.

“Ahli energi material di ITB itu perempuan. Jadi tidak ada masalah. Jangan didikotomikan laki-laki dan perempuan. Siapa yang mampu, silakan,” pungkasnya.***

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About the Author

Easy WordPress Websites Builder: Versatile Demos for Blogs, News, eCommerce and More – One-Click Import, No Coding! 1000+ Ready-made Templates for Stunning Newspaper, Magazine, Blog, and Publishing Websites.

BlockSpare — News, Magazine and Blog Addons for (Gutenberg) Block Editor

Search the Archives

Access over the years of investigative journalism and breaking reports