METROHEADLINE.NET, Jakarta – Kepergian Guruh Soekarnoputra meninggalkan duka sekaligus kenangan mendalam bagi banyak orang, termasuk Hj. Bunga Assegaf, Pengurus Balitbang dan Pengajian Al-Hidayah Partai Golkar.
Bunga mengenang Guruh bukan hanya sebagai seniman besar, tetapi juga sebagai sosok pendidik yang pernah memberikan banyak ilmu dan inspirasi kepada mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), termasuk dirinya.
Kenangan tersebut kembali terlintas ketika Bunga menghadiri pemakaman Guruh Soekarnoputra di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026).
Bunga menuturkan, saat dirinya menjadi mahasiswa di IKJ, ia mengambil jurusan film. Meski demikian, pembelajaran di kampus tidak hanya berkutat pada bidang film, tetapi juga mencakup berbagai aspek seni dan budaya.
Pada masa itu, Guruh Soekarnoputra pernah didatangkan untuk memberikan pembelajaran kepada mahasiswa mengenai seni, khususnya seni tari dan budaya.
“Ketika di Institut Kesenian Jakarta, beliau banyak sekali mengajarkan kami mengenai banyak hal, khususnya untuk seni. Kebetulan pada saat itu saya mengambil jurusan film,” ujar Bunga kepada wartawan usai menghadiri pemakaman Guruh.
Menurut Bunga, mahasiswa IKJ kala itu dituntut memiliki pengetahuan luas mengenai seni dan budaya. Salah satu yang masih sangat diingatnya adalah kewajiban mengenal sejumlah tari daerah Indonesia.
Ia mengungkapkan, mahasiswa bahkan harus menghafalkan sekitar 15 tari daerah sebagai bagian dari materi yang harus dikuasai.
“Pada saat itu banyak sekali informasi-informasi tari daerah yang dulu kita ujian saja harus menghafalkan 15 tari daerah. Kalau 15 tari daerah pada saat ujian, kami tidak lolos,” kenangnya.
Bunga mengatakan, kehadiran Guruh ketika itu memberikan kesan tersendiri bagi para mahasiswa. Sosok Guruh yang menurutnya rendah hati membuat proses pembelajaran mengenai seni dan budaya terasa lebih dekat.
“Saat itu usia saya kurang lebih baru 23 tahun. Beliau sangat humble, sangat memberikan aspirasi dan banyak ilmu mengenai dunia seni, baik tarik suara maupun seni tari, budaya khususnya yang diajarkan kepada kami semuanya para mahasiswa,” tuturnya.
Bagi Bunga, ilmu dan perhatian yang diberikan Guruh menjadi sesuatu yang tidak mudah dilupakan. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, ia masih merasa memiliki utang budi kepada putra Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tersebut.
“Kami sangat berhutang budi sekali dengan beliau. Sampai saat ini pun saya seperti ini, mungkin walaupun sekarang menjadi salah satu praktisi pengurusan Partai Golkar, dan saya juga pengurus salah satu ormas Islam, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan Majelis Ulama Indonesia,” katanya.
Karena itu, ketika mendengar kabar Guruh meninggal dunia pada Sabtu dini hari, Bunga mengaku sangat terpukul. Ia merasa harus menyempatkan diri untuk datang memberikan penghormatan terakhir.
“Saya begitu mendengar beliau jam 4 pagi tadi meninggal, merinding. Ketika saya, ya Allah, ya Rauf, saya punya hutang budi dengan beliau. Walaupun kondisi saya seperti ini, saya mau tidak mau harus meluangkan waktu untuk terakhir kalinya untuk beliau,” ucapnya.
Bunga juga mengingat kembali masa ketika dirinya berusaha masuk IKJ. Ia mengaku sempat tidak lolos dalam ujian masuk, namun berkat perhatian salah seorang dosen, dirinya tetap mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di kampus seni tersebut.
Ia menyebut, kehadiran Guruh pada masa itu menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan dalam perjalanan pendidikannya.
“Saya sebenarnya tidak lolos ujian ketika masuk di Institut Kesenian Jakarta. Saat itu ada salah satu dosen yang baik dan saya begitu antusias ingin sekali kuliah di Institut Kesenian Jakarta,” ungkapnya.
Bunga mengaku tidak pernah menyangka dapat memperoleh kesempatan belajar langsung dari sosok seperti Guruh Soekarnoputra.
“Dalam mimpi pun tidak pernah ada, didatangkannya Mas Guruh Soekarnoputra ini untuk memberikan penyuluhan kepada beberapa mahasiswa yang sekiranya masih kurang pengetahuannya mengenai seni budaya dan seni tari,” ujarnya.
Kini, setelah Guruh berpulang, kenangan tersebut menjadi bagian penting yang terus melekat dalam ingatan Bunga. Ia menilai Guruh telah meninggalkan jejak bukan hanya melalui karya-karya seni, tetapi juga melalui ilmu yang pernah diberikan kepada generasi muda.
“Kesannya, beliau itu pendidik. Beliau sangat banyak sekali mengajarkan kami banyak hal, khususnya mengenai budaya. Jadi banyak sekali menginspirasi para mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta pada saat itu,” kata Bunga.
Bagi Bunga, menghadiri pemakaman Guruh bukan sekadar bentuk penghormatan kepada seorang seniman besar. Kedatangannya juga menjadi cara untuk mengenang sosok yang pernah memberikan ilmu dan membuka wawasan tentang seni serta kebudayaan Indonesia pada masa mudanya.
Kenangan tersebut, kata dia, akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dan menjadi alasan kuat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Guruh Soekarnoputra.(Mulyawan)***