Blitar, Metroheadline.net – Dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas dan generasi emas yang berdaulat, maju, adil dan makmur, DPR bersama pemerintah daerah menggelar sosialisasi program Bangga Kencana di Kantor Desa Sumberagung, Kec. Selorejo, Kab. Blitar, Rabu (14/10/2026).
Dalam pemaparannya Ketua Tim Kerja Penggerakan Masyarakat dan Pendayagunaan Lini Lapangan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, S.E., M.Si menjelaskan sejumlah program prioritas yang diemban oleh Kemendukbangga/BKKBN yaitu • GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), SIDAYA (Lansia Berdaya), Super Apps Keluarga Indonesia (atau SAKINA / berbasis AI).
Untuk menciptakan keluarga berkualitas, Ia juga menekankan tentang pentingnya makanan bergizi dan mencegah Stunting. Menurutnya, Pemerintah melalui program nasionalnya yaitu makan bergizi gratis (MBG) dinilai sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya Stunting.
“Selain anak sekolah, MBG juga menyasar ibu hamil, ibu menyusui dan balita non PAUD. Khusus di Kabupaten Blitar, sebanyak 37.978 porsi MBG tersebar untuk ibu hamil, ibu menyusui dan balita non PAUD,” ujarnya.
Terkait dengan Stunting, ia menghimbau kepada masyarakat untuk mengenali, mencegah dan menangani potensi Stunting di keluarganya masing-masing. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh dan berkembang pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, dan infeksi yang berulang terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
“Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga memengaruhi perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan masa depan anak,” imbuhnya.
Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kab. Blitar, dr. Christine Indrawati, M.Kes menilai Program Bangga Kencana merupakan upaya strategis untuk mewujudkan keluarga berkualitas melalui tiga pilar utama, yaitu Pembangunan Keluarga, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dengan tujuan mewujudkan keluarga yang berkualitas, mandiri, dan berketahanan guna mendukung pertumbuhan penduduk yang seimbang menuju Indonesia Emas 2045
Ia mengingatkan bahwa salah satu hambatan dalam mewujudkan keluarga berkualitas adalah Keluarga Berisiko Stunting (KRS) yaitu keluarga yang memiliki satu atau lebih faktor risiko yang dapat menyebabkan anak mengalami stunting (kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan).
Menurutnya, faktor utama penyebab KRS adalah kondisi ekonomi rendah (keluarga prasejahtera), sanitasi lingkungan yang buruk (tidak memiliki jamban sehat), akses air minum yang tidak layak, tingkat pendidikan orang tua yang rendah dan Karakteristik Reproduksi.
“Kita perlu mengedukasi keluarga beresiko stunting seperti pemenuhan makanan bergizi, mengkonsumsi tablet penambah darah selama masa kehamilan, menjauhi paparan asap rokok, pemberian ASI pada bayi dan kebersihan lingkungan,” pungkasnya. (DBS)