METROHEADLINE.NET, Jakarta – Upaya pemerintah dalam mendorong percepatan investasi dinilai masih menghadapi tantangan serius. Strategi yang dijalankan belum sepenuhnya koheren dengan ekspektasi lembaga keuangan maupun para investor sebagai pemilik modal.
Akibatnya, muncul kegelisahan di kalangan pelaku investasi yang kemudian berdampak pada dinamika pasar dan kondisi psikologis masyarakat secara luas.
Hal tersebut disampaikan oleh Nasruddin Tueka, peserta Lemhannas RI Angkatan 52 yang fokus pada studi ekonomi dan isu-isu strategis.
Menurutnya, investasi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi semata, tetapi juga oleh stabilitas politik, kepastian kebijakan, serta tingkat kepercayaan terhadap arah pembangunan nasional.
“Ketika terjadi ketidakseimbangan dalam dinamika ekonomi dan politik, investor akan cenderung mencari jaminan kepastian. Jika rasa aman itu tidak terbentuk, maka investasi menjadi gelisah. Pada saat yang sama, masyarakat pun ikut merasakan kecemasan dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” ujar Nasruddin, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa stabilitas investasi jangka panjang memiliki hubungan yang erat dengan psikologi kepemimpinan dan perilaku politik. Sistem pemerintahan, distribusi kekuasaan, hingga arah kebijakan publik harus saling mendukung dan melengkapi demi menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan.
Menurutnya, pasar sering kali bereaksi terhadap sinyal-sinyal yang muncul dari pemerintah. Ketika visi pembangunan tidak dibangun secara fundamental, terukur, dan teknokratis, maka rantai pasok maupun rantai nilai ekonomi dapat terganggu akibat menurunnya kepercayaan pelaku usaha.
Nasruddin juga menyoroti kecenderungan munculnya berbagai ide dan kebijakan yang terkadang diluncurkan tanpa kajian akademik yang memadai serta tanpa dukungan data yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian yang pada akhirnya memengaruhi persepsi investor terhadap prospek ekonomi nasional.
“Ketika investasi mulai gelisah, pasar akan ikut terpengaruh. Jika masyarakat juga mengalami kegelisahan yang sama, maka dampaknya dapat menjalar ke stabilitas politik negara. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk membangun kembali kepercayaan publik dan investor,” katanya.
Ia menilai bahwa pendekatan psikologi politik menjadi salah satu solusi yang perlu diperkuat. Kecerdasan emosional (EQ), introspeksi, empati humanis, serta keteladanan positif dari para pemimpin dinilai mampu menjadi jalan tengah dalam meredam kecemasan yang berkembang di kalangan investor maupun masyarakat.
Di sisi lain, Nasruddin mengakui bahwa sejumlah indikator ekonomi makro saat ini menunjukkan tren yang cukup positif. Penguatan fiskal, apresiasi nilai tukar rupiah, meningkatnya aliran dana masuk (capital inflow), serta penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi sinyal optimisme yang tidak dapat diabaikan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut sebagian besar masih ditopang oleh efektivitas kebijakan moneter dan fiskal yang dijalankan oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Oleh sebab itu, perlu dibangun fondasi ekonomi yang lebih kuat melalui strategi jangka panjang yang berorientasi pada pertumbuhan investasi dan pasar yang stabil.
Nasruddin menegaskan bahwa pendekatan politik yang bersifat transaksional maupun terlalu akomodatif sebaiknya tidak dijadikan instrumen utama dalam mengendalikan arah kebijakan dan distribusi kekuasaan. Strategi tersebut mungkin efektif menjaga stabilitas dalam jangka pendek, namun belum tentu mampu menciptakan kepercayaan yang berkelanjutan bagi investor dan pasar.
Sebagai langkah ke depan, ia mendorong adanya pendekatan yang lebih tepat dalam membangun kepercayaan melalui penguatan analisis, evaluasi, dan pengawasan yang terintegrasi. Dengan demikian, nilai investasi, pertumbuhan ekonomi, dividen, indeks pasar, serta momentum pembangunan dapat bergerak secara selaras dan berkelanjutan.
“Kepercayaan adalah mata uang utama dalam investasi. Ketika kepercayaan tumbuh, pasar akan bergerak lebih stabil, investasi meningkat, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.***