METROHEADLINE.NET – Diskusi bertema pengembangan pariwisata dan ekonomi desa menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, hingga pelaku usaha desa. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa (12/5/2026), dengan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun pariwisata Indonesia yang berkelanjutan, berkualitas, dan berbasis masyarakat.
Narasumber pertama, Ketua Umum APUDSI Maulidan Isbar menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi pariwisata luar biasa yang harus terus dikembangkan melalui penguatan desa dan UMKM.
Menurutnya, sektor pariwisata menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan masyarakat dari bawah, terutama di wilayah pedesaan. Ia menyebut aktivitas seperti homestay, kuliner, kerajinan tangan, hingga jasa pemandu wisata merupakan bagian penting dari pertumbuhan ekonomi lokal.
“Ketika aktivitas pariwisata tumbuh di desa, otomatis ekonomi masyarakat juga ikut bergerak. UMKM pasti tumbuh di situ,” ujar Maulidan.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan generasi muda dan mahasiswa dalam pengembangan pariwisata nasional. Menurutnya, mahasiswa memiliki kapasitas intelektual dan daya kritis yang dibutuhkan untuk mendukung berbagai program pemerintah di sektor pariwisata.
Selain itu, APUDSI juga tengah mendorong program pengelolaan sampah berbasis teknologi melalui konsep Waste to Energy dan Waste to Business. Saat ini pihaknya menggandeng sejumlah mitra dari Cina dan Eropa guna mencari model terbaik pengolahan sampah yang dapat diterapkan hingga ke tingkat desa.
“Kami ingin pengelolaan sampah ini tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, narasumber kedua, Staf Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani mengajak generasi muda untuk aktif berkolaborasi dalam gerakan pariwisata berkelanjutan melalui berbagai komunitas dan kegiatan sosial.
Menurut Zita, pengembangan pariwisata saat ini tidak bisa dipisahkan dari isu lingkungan, terutama persoalan sampah dan pelestarian destinasi wisata.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya bersama UKP Pariwisata dan gerakan “Unlock Indonesia” terus mendorong keterlibatan anak muda dalam mencintai Indonesia melalui promosi destinasi wisata dan aksi nyata menjaga lingkungan.
“Sekarang eranya anak muda sadar lingkungan. Banyak komunitas yang melakukan aksi bersih-bersih pantai dan destinasi wisata. Ini menjadi bagian penting dari pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, pihak akademisi dari Universitas Pancasila turut menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Wakil Dekan II Fakultas Pariwisata Fahrurozy Darmawan mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah masih adanya kesenjangan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Menurutnya, sejak berdiri pada 2008, Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila berupaya mengisi kebutuhan tersebut melalui pengembangan program studi pariwisata yang berorientasi pada kebutuhan industri.
“Kita punya sumber daya pariwisata yang luar biasa, tapi ada bottleneck di sisi sumber daya manusia. Karena itu kampus hadir untuk menciptakan SDM pariwisata yang unggul dan siap terjun ke industri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kurikulum di Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila dirancang berbasis internasional dengan melibatkan konsultan dan praktisi dari dalam maupun luar negeri. Kurikulum tersebut terus diperbarui mengikuti perkembangan industri pariwisata global.
Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa juga didorong aktif melakukan praktik lapangan dan tinggal langsung di tengah masyarakat melalui konsep pariwisata berbasis komunitas.
“Kita ingin mahasiswa menjadi local champion di daerahnya masing-masing. Banyak mahasiswa kami dari Belitung, Maratua, NTT dan daerah lain yang kembali membangun pariwisata di kampung halamannya,” kata Fahrurozy.
Ia menambahkan, pendekatan pariwisata yang diajarkan kampus bukan sekadar menciptakan tenaga pelayanan wisata, melainkan membangun kemitraan yang menghargai budaya lokal dan karakter masyarakat setempat.
Menurutnya, keunikan budaya daerah justru menjadi kekuatan utama pariwisata Indonesia yang tidak boleh dihilangkan demi menyeragamkan standar pelayanan.
“Orang Batak dengan karakternya, orang NTT dengan budayanya, itu justru kekuatan pariwisata kita. Jangan semua diseragamkan. Wisatawan harus belajar menghormati budaya lokal,” tuturnya.
Senada dengan itu, Ketua Penelitian, Pengabdian Masyarakat dan Kerja Sama Vitha Octavanny menegaskan pentingnya sinergi antara kampus, pemerintah, media, masyarakat, dan industri dalam membangun pariwisata nasional.
Ia berharap lulusan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila mampu menjadi sumber daya manusia berkualitas yang tidak hanya siap bekerja di industri, tetapi juga mampu bertahan dan berkontribusi di masyarakat.
“Harapan kami adalah seluruh pihak bisa memiliki satu suara dalam membangun pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas, tidak hanya mengejar kuantitas tetapi juga kualitas,” ujar Vitha.
Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan budaya dalam pengembangan destinasi wisata. Konsep pariwisata berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar potensi wisata Indonesia tetap terjaga dan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal.
Talkshow ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Muhammad Rizky Aldila, S.H., M.Kn. di damping oleh Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata Dr. Meizar Rusli, M.Sc., CHE. Serta Fahrurozy Darmawan, S.Ikom., M.P.Par Wakil Dekan II Fakultas Pariwisata.***















