Kupang, Metroheadline.net – Lampu Lampion yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Nusa Tenggara Timur berlangsung meriah di jalan Jl tari , Kota Kupang, Jumat 6 Maret 2026 malam.
Ribuan warga lokal maupun wisatawan memadati ruas jalan di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT untuk menyaksikan berbagai atraksi, termasuk pertunjukan barongsai, serta menikmati aneka makanan dan minuman yang dijajakan oleh pelaku UMKM.
Pengamanan kegiatan tersebut dilakukan oleh jajaran Polresta Kupang Kota guna memastikan festival berjalan aman dan lancar hingga puncak acara yang dijadwalkan pada Minggu (8/3/2026).
Festival Lampion yang dimulai sekitar pukul 17.00 WITA itu menjadi perhatian masyarakat Kota Kupang.
Selain warga yang melintas di kawasan tersebut, banyak masyarakat yang datang khusus untuk menyaksikan event perdana tersebut.
Sejumlah pejabat dan tokoh penting turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua DPRD NTT Emilia Julia Nomleni, Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry Pelt, Anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto, perwakilan PSMTI Pusat, serta para tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Festival tersebut secara resmi dibuka oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena yang ditandai dengan pemukulan gong.
Ketua Panitia, dr. Andre Hartanto, dalam laporannya menyampaikan Festival Lampion Food Street Market merupakan bukti nyata kolaborasi dan harmoni dalam upaya meningkatkan ekonomi sekaligus menarik minat wisatawan ke Kota Kupang.
Ia menjelaskan, panitia menghadirkan sekitar 70 hingga 80 booth UMKM dalam festival tersebut.
“Kami menghadirkan sekitar 70 sampai 80 booth UMKM yang telah bergabung. Bahkan masih ada yang ingin ikut, namun belum bisa kami tampung. Semoga ke depan lebih banyak lagi UMKM yang dapat berpartisipasi,” ujarnya.
Andre juga menyebutkan bahwa Festival Lampion ini merupakan event perdana yang diselenggarakan oleh PSMTI NTT.
Sementara itu, Ketua PSMTI NTT Hengky Liyanto mengatakan festival tersebut digelar dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, yang merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Tionghoa yang berkembang secara harmonis di tengah keberagaman budaya Indonesia.
Menurutnya, perayaan Imlek dan Cap Go Meh merupakan bentuk rasa syukur, kebersamaan, harapan, serta penghargaan terhadap tradisi.
Ia menambahkan Provinsi NTT merupakan daerah yang sangat menghargai keberagaman budaya, suku, dan agama.












