Metropolitan

Ramadhan di Lapas Cipinang: Menata Iman dan Harapan di Balik Jeruji

×

Ramadhan di Lapas Cipinang: Menata Iman dan Harapan di Balik Jeruji

Share this article
Suasana Ramadhan di Lapas Cipinang (Istimewa)

METROHEADLINE.NET – Fajar belum sepenuhnya menyingsing di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur. Namun kehidupan di balik tembok tinggi itu sudah mulai bergerak. Di kamar-kamar hunian, para warga binaan duduk melingkar sederhana. Sebagian menyiapkan santap sahur, sementara yang lain menunggu waktu imsak sambil berbincang pelan.

Suasana Ramadhan di dalam lapas terasa berbeda. Tak ada hiruk-pikuk kendaraan atau keramaian kota. Yang terdengar hanya percakapan lirih dan langkah kaki yang tertahan. Dalam ruang sempit tempat mereka menjalani masa hukuman, bulan suci menghadirkan perenungan yang lebih mendalam—tentang kesalahan masa lalu, kerinduan kepada keluarga, dan harapan untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik.

Di lapas terbesar di Jakarta itu, Ramadhan tidak sekadar menjadi waktu untuk menahan lapar dan dahaga. Bulan suci dimanfaatkan sebagai momentum pembinaan spiritual bagi para warga binaan pemasyarakatan (WBP) untuk menata kembali arah hidup yang sempat tersesat.

Sejak dini hari, kegiatan ibadah telah dimulai. Para warga binaan sahur bersama di kamar masing-masing sesuai blok hunian. Usai sahur, mereka melaksanakan salat Subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan kultum singkat. Ceramah tersebut disampaikan oleh sesama narapidana yang telah mengikuti program pembinaan keagamaan.

Pesan yang disampaikan sederhana namun bermakna: tentang kesabaran, pertobatan, serta kesempatan untuk memperbaiki diri.

Memasuki pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB, para warga binaan diperbolehkan keluar dari kamar menuju masjid di dalam kompleks lapas. Di tempat ibadah tersebut, mereka mengikuti kegiatan ta’lim dan mendengarkan tausiyah dari para dai yang dihadirkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Menjelang waktu Dzuhur, suasana lapas kembali dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an. Para warga binaan duduk berkelompok, membuka mushaf, dan melanjutkan kegiatan tadarus hingga menjelang Maghrib.

Berdasarkan pengamatan di masjid lapas, puluhan narapidana yang tergabung dalam kelas santri tampak mengenakan pakaian muslim berwarna putih lengkap dengan sarung dan kopiah. Mereka membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, menunggu waktu salat berikutnya tiba.

Suara tadarus bersahutan, menciptakan suasana syahdu yang menghadirkan ketenangan di tengah kehidupan yang serba terbatas.

Kepala Lapas Cipinang, Wachid Wibowo, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan Ramadhan tersebut telah dipersiapkan sejak jauh hari. Menurutnya, bulan suci menjadi momentum penting untuk memperkuat pembinaan keagamaan bagi para warga binaan.

“Selama memasuki bulan Ramadhan sampai hari ini, sudah hari yang ke-13, ada target-target yang memang kami tanamkan khususnya di bidang pembinaan, agar setelah Ramadhan ini target tersebut bisa tercapai sekaligus memperkuat keimanan dan ketakwaan warga binaan,” ujar Wachid saat ditemui, Selasa (3/3/2026).

Ia berharap, melalui berbagai kegiatan spiritual tersebut, para warga binaan dapat menyadari kesalahan yang pernah dilakukan sekaligus menjadikan Ramadhan sebagai ruang pertobatan dan introspeksi diri.

“Selama mereka berada di Lapas Cipinang, kami berharap mereka benar-benar menyadari kesalahan. Ramadhan ini menjadi ruang bagi mereka untuk memperbaiki diri sekaligus meningkatkan kualitas pribadi,” katanya.

Program pembinaan Ramadhan sebenarnya telah menjadi agenda rutin setiap tahun. Namun pihak lapas terus melakukan evaluasi agar kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial, melainkan benar-benar memberi dampak pada perubahan perilaku warga binaan.

Salah satu target yang ditetapkan tahun ini adalah meningkatkan intensitas membaca Al-Qur’an. Para warga binaan bahkan didorong untuk mengkhatamkan 30 juz setiap hari selama Ramadhan.

“Kalau tahun ini kami menargetkan mereka bisa khatam setiap hari, sehingga setelah Ramadhan paling tidak bisa mencapai 30 kali khatam. Bagi yang belum bisa membaca Al-Qur’an juga disediakan kelompok khusus agar mereka bisa belajar dan memperbaiki bacaannya,” jelas Wachid.

Meski kegiatan keagamaan berlangsung intens selama Ramadhan, aspek keamanan tetap menjadi perhatian utama. Setiap pergerakan warga binaan dari blok hunian menuju masjid dilakukan dengan pengawalan ketat oleh petugas. Jumlah personel pengamanan pun ditingkatkan pada jam-jam ibadah untuk memastikan situasi tetap kondusif.

Di balik jeruji besi itu, Ramadhan berjalan dengan ritmenya sendiri. Ada ayat-ayat suci yang dibaca perlahan, doa yang dipanjatkan dalam diam, serta harapan yang tumbuh sedikit demi sedikit.

Harapannya sederhana: ketika suatu hari pintu penjara terbuka, mereka tidak lagi kembali sebagai pelanggar hukum, melainkan sebagai manusia yang telah belajar dari kesalahan dan menemukan jalan pulang menuju kehidupan yang lebih baik. (Berbagai sumber)***