Bamus Betawi Gelar Silaturahmi dan Kunjungan ke Petilasan Pangeran Wiraguna

Spread the love

Jakarta, Metroheadline.net – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Bamus Betawi, Anas Ma’ruf, SE mengatakan, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menilai pentingnya menarik benang merah antara peristiwa masa lalu yang disebut sejarah dengan peristiwa sekarang dan peristiwa yang akan datang sebagai satu tarikan sejarah yang hidup.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah kita ingin menarik suatu benang merah antara peristiwa masa lalu yang disebut sejarah dengan peristiwa sekarang dan peristiwa yang akan datang,” ujar Anas, dalam acara silaturahmi pengurus Bamus Betawi dengan ormas-ormas Betawi dan kunjungan tempat bersejarah di 5 wilayah kota tahun 2026, Sabtu (17/10/2026), di lokasi pemakaman Pangeran Wiraguna, Jakarta Selatan.

Menurutnya, jika masa lalu diputus dengan masa sekarang dan masa yang akan datang, maka bisa disebut sebagai situs yang mati. Sementara sejarah yang memiliki sifat kontinuitas, berkesinambungan dan dinamis. “Kita ingin menarik benang merah dari tempat ini sebagai suatu sejarah yang hidup. Saya berharap kegiatan kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta seperti ini bisa melahirkan manfaat dan perbaikan situs yang memang layak dikunjungi oleh generasi muda,” tambah Anas.

Sejarawan Ustadz Hasan, S.Ag mengungkapkan bahwa keberadaan situs atau cagar budaya alam yang diakui oleh Dinas Kebudayaan seringkali menjadi permasalahan dan membutuhkan pelurusan sejarah.

Seperti halnya situs Pangeran Wiraguna, lanjut Hasan, memiliki tiga latar belakang berbeda. Dalam situs yang tertulis dan diakui Dinas Kebudayaan, Pangeran Wiraguna sebenarnya adalah seorang warga negara Belanda bernama asli Hendrik Lucaasz Cardeel. Menurutnya, ini perlu dipertanyakan mengapa orang Belanda mendapat gelar Pangeran yang notabene VOC tengah berkonflik dengan Kesultanan Banten.

Disisi lain, ketika mempelajari situs sejarah dari Pangeran Arya Wiraguna dengan sumber dari lisan lokal, Arya Wiraguna ini merupakan anak raja dari Pangeran Brawijaya V yang masih keturunan dari Kerajaan Majapahit.

“Jika dibandingkan kedua sumber tersebut, yang nyambung dengan sejarah perjuangan adalah Pangeran Arya Wiraguna. Namun demikian, jika keberadaan situs ini sudah diakui maka hari ini menjadi momentum bagi Bamus Betawi untuk mengelola situs ini dan meluruskan sejarahnya,” ungkap Ustadz Hasan.

Sementara itu, DR. Firdaus, narasumber lainnya berpendapat bahwa Bamus Betawi harus siap menghadapi tantangan ke depan dalam mempertahankan kebudayaan. Menurutnya, kekuatan akidah harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda guna mempertahankan sejarah di Jakarta.

“Penting bagi kita menghadapi tantangan dan menatap masa depan yang terarah sehingga Bamus Betawi perlu meningkatkan toleransi, korektif dan berimbang dalam pemikiran,” pungkasnya. (DBS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *