JAKARTA, Metroheadline.net – Pergantian Kapolri tidak boleh mengulang siklus lama. Hal itu ditegaskan SETARA Institute usai Jenderal Suyudi Ario Seto ditunjuk menjadi Kapolri baru menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Dalam studi Dari Kapolri ke Kapolri (2026), SETARA menemukan pola keberulangan masalah: tindakan represif saat mengamankan demonstrasi, minimnya akuntabilitas penggunaan senjata api, kultur kekerasan, arogansi aparat, hingga penyuapan dan penyalahgunaan wewenang.
Menurut SETARA, hal ini membuktikan reformasi Polri masih bersifat leadership-driven, bergantung pada figur, bukan pada sistem kelembagaan yang berkelanjutan.
Padahal, Suyudi telah mengusung gagasan “Polri Bersama Masyarakat” saat uji kelayakan di DPR. SETARA meminta gagasan itu diterjemahkan menjadi indikator konkret: laporan warga ditangani profesional, penggunaan kekuatan proporsional, dan kesetaraan di hadapan hukum.
Pemerintah sendiri telah memiliki peta jalan reformasi melalui Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) hingga 2029. Tantangannya kini adalah konsistensi implementasi, bukan menambah jargon baru.