METROHEADLINE.NET , Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) berkolaborasi dengan Sanggar Seni Putra Satria dalam menjalankan program penguatan Teater Topeng Blantek Betawi. Kegiatan ini berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026 guna memperkuat komunitas, mengembangkan karya, serta memperluas ruang perjumpaan Topeng Blantek dengan generasi muda.

Program tersebut merupakan bagian dari Program Hibah Inovasi Seni Nusantara Tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Rangkaian kegiatan mencakup penguatan tata kelola sanggar serta pengembangan ekosistem digital. Tim juga memberikan pelatihan penyusunan naskah baru yang mengangkat permasalahan yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Dukungan juga diberikan untuk kebutuhan produksi dan pementasan. Tim menyediakan kostum, properti, perangkat tata suara, tata cahaya, dan peralatan produksi. Untuk mengembangkan ekosistem digital, tim mengembangkan situs web sanggar dan memperkuat pengelolaan media sosial.
Salah satu rangkaian kegiatannya adalah “Topeng Blantek Goes to School: Sosialisasi dan Panggung Keliling Teater Topeng Blantek Betawi.” Kegiatan perdana berlangsung di SMP Cenderawasih I, Cipete, Jakarta Selatan, pada 10 September 2026. Sekitar 65 siswa mengikuti pertunjukan Si Badul dan Anak Ondel-Ondel.
Pertunjukan tersebut mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan akal imitasi (AI). Pertunjukan juga dikemas secara interaktif sehingga siswa dapat berinteraksi langsung dengan para pemain.
Melompat dengan generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keabadian seni tradisi. Hal ini juga menjadi tantangan karena masih banyak siswa yang belum mengenal Topeng Blantek.
“Anak-anak adalah pemegang tongkat estafet kebudayaan. Di tengah pesatnya perkembangan gawai dan berbagai hiburan baru, mereka bisa semakin jauh dari tradisi di lingkungan mereka sendiri. Oleh karena itu, tradisi perlu diperkenalkan kepada mereka agar generasi muda tidak hanya mengetahui keberadaannya, tetapi juga memiliki keinginan untuk ikut menjaga dan melestarikannya,” kata Luqman Hakim, ketua pelaksana kegiatan.
Menurut Luqman, pelestarian seni tradisi tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan keberadaan kesenian. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membuat generasi muda mengenal dan memiliki ketertarikan terhadapnya.
Rangkaian Topeng Blantek Goes to School akan berlanjut ke empat sekolah lainnya di Jakarta. Program secara keseluruhan berlangsung hingga Oktober 2026 dan akan dilanjutkan dengan pentas seni sebagai salah satu agenda akhir kegiatan.
Tim dosen pelaksana terdiri dari Luqman Hakim (Program Studi Ilmu Komunikasi), Dede Suprayitno (Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media), Gustiana Sabarina (Program Studi Sains Informasi), serta Mustofah Galih (Program Studi Sains Data). Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Syafiq Aulia Ramadhan dan Tubagus Mohammad Abdurroufi.
Topeng Blantek telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016 dalam domain seni pertunjukan. Namun, kesenian ini kini menghadapi masalah serius dalam keinginannya. Semakin sedikit sanggar di Jakarta yang masih memainkan Topeng Blantek dan ruang pementasannya pun semakin terbatas. Tanpa regenerasi, Topeng Blantek berada di ambang kepunahan.
Program ini diharapkan dapat mendorong regenerasi dan menjaga kelestarian Teater Topeng Blantek Betawi.