Sulawesi Utara, JNcom – Pemerintah bersama Komisi IX DPR RI melalui Kemendukbangga/BKKBN kembali mengadakan sosialisasi program Bangga Kencana untuk membentuk keluarga berkualitas kepada masyarakat Sulawesi Utara, Jum’at (7/11/2025), di GMAHK Jemaat Maasing, Kel. Maasing , Kec. Tuminting, Kota Manado.
Narasumber yang hadir adalah Felly Estelita Runtuwene, S.E (Ketua Komisi IX DPR RI), Duly Apika Sari, S.Sos, M.Ed (Pranata Humas Ahli Muda Kemendukbangga/BKKBN Pusat), Jack Mamahit, Sos (Ketua TK AKIE HUBAMAS Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Sulawesi Utara), dr. Joy Zeekon, M.Kes (Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DP2KB Kota Manado).
Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, S.E menjelaskan, Program Bangga Kencana tidak hanya berbicara tentang pembangunan keluarga, tetapi juga tentang bagaimana menggerakkan kesadaran kolektif agar setiap rumah tangga memiliki akses terhadap edukasi, pendampingan, dan layanan yang menyeluruh.
“Kita membutuhkan sinergi antara pusat dan daerah yang menjadi titik krusial untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan haknya atas informasi serta pendampingan kesehatan keluarga,” ujarnya.
Pranata Humas Ahli Muda Kemendukbangga/ BKKBN Pusat, Duly Apika Sari, S.Sos, M.Ed menjelaskan bahwa berdasarkan data 2024, prevalensi stunting Indonesia turun menjadi 19,8 persen. Sementara untuk Sulawesi Utara masih berada di angka 20,8 persen, berada di atas rata-rata nasional.
Ia meminta agar informasi tentang pencegahan stunting harus digerakkan secara lebih luas. Ia berharap seluruh mitra kerja, mulai dari pemerintah daerah, tenaga lapangan, hingga komunitas lokal, menjadi jembatan informasi yang efektif bagi keluarga-keluarga berisiko.
“Mengurangi permasalahan stunting memerlukan kolaborasi setiap pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Ketika semua bergerak, angka stunting akan turun secara perlahan dan nyata,” ungkapnya.
Mengutip keterangan WHO, Ketua TK AKIE HUBAMAS Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Sulawesi Utara), Jack Mamahit, Sos mengatakan bahwa sekitar 20% kasus stunting terjadi sejak anak berada dalam kandungan. Hal ini dapat terjadi karena makanan yang dikonsumsi ibu hamil kurang bergizi sehingga janin tidak mendapatkan cukup nutrisi. Akibatnya, pertumbuhan janin dalam kandungan mulai mengalami hambatan dan terus berlangsung hingga setelah lahiran.
“Stunting adalah masalah kesehatan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi sehingga mengakibatkan pertumbuhannya terganggu. Namun, tidak dapat menggeneralisasi juga setiap anak yang berperawakan pendek selalu mengalami stunting. Postur tubuh dapat dipengaruhi oleh gen dan juga hormon. Anak dengan stunting sebagian besar bertubuh pendek, namun tidak semua anak berperawakan pendek disebabkan stunting,” jelasnya.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DP2KB Kota Manado, dr. Joy Zeekon, M.Kes menekankan pentingnya pendampingan dan pengawasan terhadap ibu hamil dan ibu pasca persalinan oleh Tim Pendampingan Keluarga. “Pengawasan harus dilakukan sejak dini untuk mencegah terjadinya stunting pada anak,” ujarnya. (Red)












