METROHEADLINE.NET, Jakarta, — Momentum Idul Fitri di Masjid Agung Sunda Kelapa tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga refleksi mendalam atas kondisi global dan nasional yang penuh ketidakpastian. Hal ini disampaikan oleh Irfan Syauqi Beik, Dosen Fakultas Ekonomi Syariah IPB saat menyampaikan khutbah Idul Fitri, Sabtu (21/3/2026).
Dalam khutbahnya, Irfan menyoroti meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, fluktuasi ekonomi, krisis energi, hingga disrupsi teknologi yang berlangsung sangat cepat. Ia menyebut, dalam dua tahun terakhir, indeks ketidakpastian dunia dan risiko geopolitik terus mengalami peningkatan.
“Pertumbuhan ekonomi global tahun ini diproyeksikan masih lemah, berada di kisaran 3,3 persen. Bahkan angka ini bisa lebih rendah jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dunia saat ini berada dalam fase fragile recovery atau pemulihan yang rapuh pascapandemi COVID-19. Kondisi ini membuat perekonomian global sangat rentan terhadap guncangan, baik akibat konflik geopolitik maupun ketimpangan pertumbuhan antar sektor.
Menurutnya, terdapat kesenjangan signifikan antara sektor yang berkembang pesat seperti keuangan berbasis teknologi digital, dengan sektor lain seperti UMKM yang pertumbuhannya relatif lambat. Ketimpangan ini berdampak pada melemahnya kemampuan ekonomi dalam menyerap tenaga kerja.
Tak hanya global, Irfan juga menyoroti tekanan ekonomi domestik yang dirasakan masyarakat Indonesia. Penurunan daya beli, meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor, serta ketimpangan ekonomi yang masih tinggi turut memperparah situasi.
“Tekanan ini berdampak langsung pada meningkatnya kecemasan publik,” tambahnya.
Mengutip berbagai studi, ia menyampaikan bahwa tingkat kecemasan dan depresi mengalami lonjakan signifikan pascapandemi. Data dari World Health Organization menunjukkan adanya peningkatan prevalensi kecemasan dan depresi hingga 25 persen secara global.
Di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi. Survei kesehatan mental remaja nasional menunjukkan sekitar 34,8 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan sebagai salah satu yang paling dominan. Bahkan, ratusan ribu pelajar terindikasi mengalami gejala kecemasan dan depresi.
Sementara itu, survei dari American Psychiatric Association mencatat sekitar 43 persen orang dewasa merasa lebih cemas dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor pemicunya antara lain ketidakpastian ekonomi, dinamika politik, hingga konflik bersenjata di berbagai belahan dunia.
“Peningkatan kecemasan ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas kerja hingga 35 persen,” jelasnya.
Khutbah tersebut menjadi pengingat penting bagi jamaah untuk tetap menjaga keseimbangan antara ikhtiar menghadapi tantangan dunia dan ketenangan batin melalui nilai-nilai spiritual.

Sebelumnya, pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa juga menyampaikan harapan agar masjid terus berkembang sebagai pusat pelayanan umat menjelang milad ke-55 pada Oktober 2026. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen jamaah dalam menjaga peran strategis masjid, sekaligus memohon maaf atas segala kekurangan selama masa kepengurusan yang akan berakhir pada Mei 2026.

Dengan perpaduan refleksi spiritual dan realitas sosial-ekonomi, perayaan Idul Fitri tahun ini di Masjid Agung Sunda Kelapa menjadi momentum untuk memperkuat keimanan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kondisi umat dan bangsa.***












