Korban Laka Lantas Murid SD IT Salsabila Bekasi Masih Menanti Kepastian, Keluarga Tempuh Jalur Hukum

Spread the love

METROHEADLINE.NET, Bekasi – Perjuangan keluarga Kalandra, murid SD IT Salsabila Kota Bekasi yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas beberapa waktu lalu, hingga kini masih terus berlanjut. Meski waktu telah berlalu, keluarga menyatakan belum memperoleh penyelesaian maupun bentuk pertanggungjawaban yang dinilai memadai dari pihak-pihak yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Ayah korban mengatakan, keluarga akan terus mengawal proses hukum agar perkara ini dapat diselesaikan secara adil dan memberikan kepastian hukum bagi korban. Menurutnya, langkah hukum menjadi pilihan terakhir setelah berbagai upaya penyelesaian belum membuahkan hasil.

“Kami akan terus mengawal perkara ini hingga ke kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Kalau memang semua pihak merasa tidak memiliki tanggung jawab, biarlah hukum yang berbicara,” ujar ayah korban, dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, pihak SD IT Salsabila Kota Bekasi disebut menyampaikan bahwa insiden tersebut belum ada pihak sekolah salsabila memberikan santunan kepada korban . Sementara itu, dari pihak SMA Muhammadiyah 9 Kota Bekasi menyatakan tegas tidak ada bentuk tanggung jawab ,di karenakan di luar tanggung jawab sekolah. Pelaku yang ternyata masih di bawah umur (tidak memiliki SIM) dan kedua orang tuanya. Sampai berita ini di tayangkan belum ada rasa tanggung jawab dari pihak sekolah.

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, kondisi Kalandra disebut belum sepenuhnya pulih, baik secara fisik maupun psikologis. Hingga saat ini, gigi korban yang hilang akibat kecelakaan belum dapat dipasang kembali. Kondisi tersebut membuat Kalandra merasa kehilangan rasa percaya diri saat memasuki lingkungan sekolah dan bertemu teman-teman barunya.

Menurut sang ayah, putranya kerap merasa malu untuk tersenyum maupun berbicara karena kondisi giginya yang belum pulih. Bahkan, Kalandra mengaku takut menjadi korban bully (perundungan) oleh teman-teman barunya akibat kehilangan gigi yang dialaminya setelah kecelakaan tersebut.

“Sebagai orang tua, kami sangat sedih melihat kondisi psikologis anak kami. Selain harus menanggung rasa sakit, ia juga harus hidup dengan rasa malu dan ketakutan akan menjadi korban bully hanya karena giginya belum bisa dipasang kembali,” ungkapnya.

Keluarga berharap persoalan ini tidak hanya dipandang sebagai perkara hukum semata, tetapi juga menjadi perhatian dari sisi kemanusiaan, terutama menyangkut masa depan dan kesehatan mental seorang anak.

Meski demikian, keluarga mengapresiasi adanya evaluasi yang disebut telah dilakukan oleh pihak sekolah setelah peristiwa tersebut. Mereka berharap evaluasi itu benar-benar diwujudkan dalam bentuk peningkatan pengawasan dan keselamatan peserta didik agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Menutup keterangannya, ayah Kalandra mengimbau seluruh sekolah, orang tua, serta masyarakat agar menjadikan keselamatan anak sebagai prioritas utama.

“Jangan sampai ada anak lain yang mengalami nasib seperti putra kami. Kami tidak ingin ada lagi orang tua yang merasakan kepedihan seperti yang kami alami. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih peduli terhadap keselamatan dan masa depan anak-anak,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah maupun pihak-pihak yang disebutkan dalam pemberitaan belum memberikan keterangan resmi terkait pernyataan keluarga korban. Media membuka ruang hak jawab kepada seluruh pihak guna memenuhi prinsip keberimbangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *