Pendidikan

Rasyid Alkautsar Tawarkan Solusi Ketimpangan AI untuk Dunia

×

Rasyid Alkautsar Tawarkan Solusi Ketimpangan AI untuk Dunia

Share this article
Foto: Ketika Mahasiswa UI, Mohamad Rasyid Alkautsar pidato pada gelaran Asia Youth International Model United Nations (Ayimun)

 

Metroheadline.net, Jakarta – Disaat gelaran Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN), di Bangkok 21-24 November lalu, Mohamad Rasyid Alkautsar (20) Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menyampaikan gagasan strategis mengenai ketimpangan global dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di sektor pendidikan.

‎Dalam pidato ilmiahnya itu, pemuda asal Jakarta tersebut mengambil tema sidang “Embracing AI Assistance in Education without Compromising Academic
‎Integrity”.

‎Dalam keterangan tertulisnya, Rasyid menjelaskan bahwa AI memang menjadi alat penting yang mampu mendukung aktivitas manusia sehari-hari, termasuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

‎”AI telah memunculkan tantangan serius bagi negara-negara anggota UNESCO yang berjumlah 194 Member States dan 12 Associate Members,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Jumat, 28 November 2025.

‎Dalam acara tersebut, Rasyid menekankan bahwa meskipun UNESCO telah menerbitkan sejumlah pedoman global-antara lain; Beijing Consensus on Artificial Intelligence and Education (2019), UNESCO Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence (2021), UNESCO Guidance for Generative AI in Education and Research (2023), AI and Education: Guidance for Policy-makers (2021), dan AI and the Futures of Learning – UNESCO Reports, dokumen-dokumen tersebut bersifat non-legally binding sehingga implementasinya masih timpang
‎antarnegara.

‎Akibatnya, menurut dia berbagai masalah tetap terjadi di negara-negara anggota, termasuk:

‎● Regulasi AI global yang lemah dan tidak mengikat
‎● Bias algoritmik yang memperburuk ketidaksetaraan
‎● Lemahnya perlindungan data pribadi
‎● Kesenjangan infrastruktur digital dan AI
‎● Kurangnya talenta dan kapasitas institusi
‎● Standar kualitas yang belum terintegrasi
‎● Lemahnya kerja sama akademik lintas negara
‎● Overdependence pada AI yang mengurangi kemampuan berpikir kritis

‎“Ketidakmerataan pemanfaatan AI bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan keadilan global. Tidak semua negara memiliki infrastruktur, kapasitas, dan kesiapan yang sama,” ujar pemuda anggota Partai Bulan Bintang tersebut.

‎Untuk menjawab kesenjangan tersebut, cucu Ahmad Sumargono anggota DPR RI periode 2004-2009 itu, mengusulkan program inovatif bertajuk Global AI Sandbox Mechanism (GASM).

‎Dia juga menerangkan, GASM merupakan kerangka internasional sukarela yang menghormati
‎kedaulatan negara, memungkinkan setiap negara:
‎● menguji, menilai, dan menerapkan teknologi AI di lingkungan yang aman,
‎● mendapatkan bimbingan teknis dan protokol keselamatan, serta
‎● tetap mempertahankan kontrol penuh atas data, kebijakan, dan arah pengembangan teknologi AI nasional.

‎Rasyid juga mengajukan struktur tiga tingkat:

‎• Tier 1 – National AI Sandboxes
‎Fasilitas bagi setiap negara untuk mengatur dan menguji AI sesuai konteks hukum, budaya, dan
‎ekonominya.

‎• Tier 2 – Regional AI Sandbox Hubs
‎Untuk mendorong kolaborasi, standardisasi, dan interoperabilitas antarnegara dalam satu kawasan.

‎• Tier 3 – Global AI Sandbox Council
‎Dikoordinasikan badan-badan PBB relevan untuk menetapkmenetapkan protokol keselamatan minimum,
‎prinsip transparansi, dan pedoman etika.

‎Guna memastikan mekanisme ini berjalan inklusif, Rasyid juga mengusulkan Cross-Funding
‎Framework, meliputi:

‎● Kontribusi negara maju untuk mendukung kesiapan negara berkembang
‎● Matching funds dari lembaga multilateral seperti World Bank, UNESCO, dan ITU
‎● Pendanaan publik–swasta dari developer AI, institusi riset, dan industri
‎● Pembentukan Komite Internasional Independen untuk mengawasi perkembangan kurikulum AI negara berkembang dan implementasi program pendidikan berbasis AI.

‎Menurutnya, pendekatan pendanaan yang kolaboratif ini penting agar negara-negara yang tertinggal
‎dalam infrastruktur maupun SDM tidak semakin tersisih dalam era teknologi masa depan.

‎Dia menambahkan, bahwa GASM adalah langkah tegas untuk memastikan penggunaan AI yang aman, adil, dan merata di seluruh dunia.

‎“Kita tidak boleh membiarkan kesenjangan digital berubah menjadi kesenjangan peradaban. AI harus menjadi alat pemersatu, bukan pemecah kesenjangan,” tegasnya.

‎”Global AI Sandbox Mechanism
‎dapat menjadi jembatan menuju masa depan pendidikan yang inklusif bagi seluruh bangsa,” pungkasnya.

‎Dia mengakui, usulannya mendapat perhatian dari berbagai delegasi muda yang hadir, dan dinilai sebagai salah satu kontribusi paling progresif dalam perumusan solusi AI di bidang pendidikan. (@)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *