METROHEADLINE.NET, JAKARTA — Meningkatnya beban utang pemerintah menjadi sinyal peringatan serius bagi perekonomian nasional. Meski secara nominal rasio utang Indonesia masih berada dalam batas aman, sejumlah indikator penting justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Debt service ratio dan debt income ratio terus meningkat, menandakan bahwa pembayaran bunga utang semakin menyempitkan ruang fiskal negara.
Guru Besar Manajemen dan Ekonomi Universitas Persada Indonesia Y.A.I (UPI Y.A.I), Prof. Dr. Nandan Limakrisna, menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa disikapi dengan pendekatan jangka pendek semata. Menurutnya, persoalan utama utang bukan terletak pada besar kecilnya pinjaman, melainkan pada kemampuan ekonomi nasional untuk membayar kembali secara berkelanjutan.
“Selama penerimaan negara masih sangat bergantung pada pajak sektor formal dan pembiayaan utang, maka setiap perlambatan ekonomi dan kenaikan suku bunga akan langsung menekan fiskal,” ujar Prof. Nandan di Jakarta.
Dalam konteks tersebut, evaluasi terhadap proyek-proyek mercusuar dinilai sebagai langkah yang wajar dan rasional. Ia menekankan bahwa proyek besar tidak selalu salah, namun tidak semua proyek berskala besar otomatis produktif secara ekonomi. Proyek yang tidak cepat menghasilkan arus kas, tidak memperluas basis pajak, serta minim efek berganda berpotensi justru menambah tekanan fiskal di masa depan.
Menurut Prof. Nandan, solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan menahan belanja negara atau mengatur ulang defisit anggaran. Diperlukan perubahan arah kebijakan yang lebih struktural, yakni dengan membangun sektor riil yang produktif, luas, dan berkelanjutan.
Ia mencontohkan sektor pangan sebagai peluang strategis yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun nilai tambah terbesar masih belum dinikmati oleh petani. Jika pemerintah mendorong pengembangan koperasi pangan produktif yang terintegrasi mulai dari produksi, pengolahan pascapanen hingga distribusi, maka nilai tambah dapat tinggal di dalam negeri.
“Model ini bukan hanya meningkatkan pendapatan petani dan menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memperluas basis pajak tanpa harus menaikkan tarif,” jelasnya.
Selain pangan, kebutuhan harian masyarakat seperti distribusi sembako, produk rumah tangga, dan barang konsumsi dasar juga dinilai sebagai sektor dengan potensi besar. Permintaan yang stabil dan berulang membuat sektor ini ideal dikelola melalui koperasi produktif berbasis komunitas yang bermitra dengan BUMN ritel dan logistik. Dengan demikian, rantai pasok domestik menjadi lebih efisien dan perputaran ekonomi terjadi setiap hari, bukan menunggu proyek besar selesai dalam hitungan tahun.
Pendekatan serupa, lanjut Prof. Nandan, dapat diterapkan di sektor energi. Pengembangan energi berbasis komunitas, seperti biomassa, pengelolaan energi lokal, dan distribusi energi skala kecil, tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga membuka peluang usaha baru di daerah. Setiap unit usaha energi lokal berpotensi menjadi sumber pendapatan dan pajak baru bagi negara.
Dalam skema ini, peran BUMN menjadi sangat strategis. BUMN tidak hanya diposisikan sebagai pelaksana proyek besar, tetapi sebagai mitra penggerak sektor riil. Melalui kemitraan dengan koperasi dan usaha rakyat, BUMN dapat memastikan tata kelola yang baik, akses pasar, serta kesinambungan usaha. Bahkan koperasi internal BUMN sendiri dapat dikembangkan menjadi koperasi produktif, bukan sekadar simpan pinjam, sehingga kesejahteraan pegawai meningkat tanpa membebani APBN.
Prof. Nandan menegaskan bahwa penguatan sektor riil memberikan dua keuntungan fiskal sekaligus. Pertama, meningkatkan penerimaan negara secara alami melalui aktivitas ekonomi yang luas dan berulang. Kedua, mengurangi ketergantungan pada utang karena pertumbuhan ekonomi tidak lagi bertumpu pada pembiayaan proyek besar semata.
Evaluasi proyek mercusuar, menurutnya, bukan berarti menghentikan pembangunan. Yang dibutuhkan adalah pergeseran prioritas, dari proyek simbolik menuju proyek yang membangun fondasi ekonomi rakyat. Infrastruktur tetap penting, namun harus terhubung langsung dengan penguatan sektor riil agar dampaknya nyata dan berkelanjutan.
Di tengah ketidakpastian global, membangun ekonomi dari bawah justru menjadi strategi paling rasional. Ketika ekspor tertekan dan pasar keuangan bergejolak, sektor riil domestik yang kuat akan menjadi penyangga utama perekonomian nasional.
“Beban utang yang meningkat adalah sinyal peringatan yang tidak boleh diabaikan. Ia menuntut perubahan arah kebijakan. Penguatan sektor riil dengan langkah konkret dan terukur bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar ekonomi nasional tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan,” pungkas Prof. Nandan.












