METROHEADLINE.NET , Jakarta – Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan sekaligus praktisi bisnis, James Riady, menyoroti semakin rapuhnya kondisi keluarga, moral, dan kehidupan spiritual masyarakat Indonesia dalam refleksinya memasuki tahun 2026.
Menurut James, keluarga merupakan fondasi utama bangsa. Jika keluarga melemah, maka bangsa secara keseluruhan juga akan melemah.
“Di dalam keluarga itulah anak-anak belajar tentang pengetahuan, nilai, moral, disiplin, kasih, pengampunan, spiritualitas, dan makna hidup. Di sana anak belajar bagaimana menjadi laki-laki, menjadi perempuan, menjadi ayah, ibu, suami, dan istri,” ujar James, dalam seminar nasional di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
Ia menekankan bahwa keluarga adalah ruang pertama bagi anak untuk belajar menghormati orang tua, otoritas, nilai kerja keras, hidup sederhana, dan tanggung jawab sosial. Namun, kenyataan yang dihadapi saat ini justru menunjukkan semakin banyaknya keluarga yang retak.
Perceraian, kesepian, luka hubungan, dan berbagai bentuk kecanduan kini menjadi sesuatu yang dianggap normal. Mulai dari narkoba, alkohol, rokok, pornografi, perjudian, hingga ketergantungan lainnya, katanya.
James juga menyoroti berbagai krisis global dan sosial yang dihadapi manusia modern, seperti penyakit, pandemi, kejahatan yang semakin canggih, ketimpangan ekonomi ekstrem, kerusakan lingkungan, serta keterbelahan sosial yang semakin tajam.
Namun menurutnya, krisis yang paling serius adalah kerusakan moral dan kekosongan spiritual manusia.
”Manusia hari ini tahu lebih banyak dari sebelumnya, tetapi memahami dirinya lebih sedikit. Kita maju secara teknologi, tetapi mundur secara rohani. Dunia penuh suara, tetapi lapar akan kebenaran,” tegasnya.
Ia juga mengkritisi perayaan Natal yang menurutnya semakin kehilangan makna sejati.
”Natal semakin menjadi festival budaya, peristiwa komersial, dan suasana musiman. Namun pribadi Kristus justru tersisih. Kita berbicara tentang damai, tetapi mengabaikan Raja Damai itu sendiri,” ujar James.
Ia menilai bahwa tanpa perubahan rohani yang mendasar, pergantian tahun tidak akan membawa perubahan yang sejati.
“Sejarah mengajarkan bahwa kemajuan manusia selalu disertai kerusakan manusia yang sama. Teknologi baru melahirkan dilema etika baru. Kekayaan baru menciptakan ketimpangan baru. Ideologi baru menjanjikan keselamatan tetapi menghasilkan perpecahan,” katanya.
James mengingatkan bahwa peradaban besar dalam sejarah pun akhirnya runtuh, dan bahwa solusi sejati bukan berasal dari kemampuan manusia semata.
“Satu-satunya jalan keluar adalah keselamatan di dalam Kristus,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan gereja dan institusi pendidikan Kristen agar tetap setia pada nilai-nilai iman di tengah tekanan budaya dan ideologi sekuler.
“Seringkali Kristus hanya menjadi pelengkap, bukan pusat. Injil menjadi terapi, bukan transformasi. Kita sibuk, tetapi tidak selalu setia. Aktif, tetapi seringkali kosong,” katanya.
Menutup refleksinya, James mengutip Kitab Yesaya yang menyatakan bahwa segala pencapaian manusia bersifat sementara.
“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah tetap untuk selama-lamanya. Peradaban akan berlalu, ideologi akan berubah, teknologi akan usang, tetapi kebenaran Tuhan tidak akan tergoyahkan,” tutupnya.
Adapun kegiatan Seminar Natal Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh STFT Jakarta ini mengambil tema ‘Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan‘. Dengan dihadiri, pemateri:
Kata Sambutan: Maruarar Sirait (Ketua Panitia Natal Nasional 2025; Menteri PKP)
Narasumber:
1. Prof.Dr.KH Nasaruddin Umar, MA (Menteri Agama Republik Indonesia);
2. Prof. Stella Christie, Ph.D (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi);
3. Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si. (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA);
4. (HC) James Riady (Pendiri & Pemimpin Yayasan Pelita Harapan)
5. Dr.Ir. Pramono Anung Wibowo, M,M. (Gubernur DKI Jakarta)
Talkshow:
1.Pdt. (HC) Jacklevyn Frits Manuputty, M.Th. (Ketua Umum PGI);
2. Pdt Dr. Jason Joram Balompapuaeng (Ketua Harian Panitia Natal Nasional)
3. Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si (Komisi Keluarga KWI);
4. Hening Parlan, M.Si (Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah, Koordinator Green Faith Indonesia). (Redaksi)***












