Nasional

Kepergian Meriyati Hoegeng, Istri Jenderal Polisi Teladan, Dilepas dengan Penghormatan Khusus

×

Kepergian Meriyati Hoegeng, Istri Jenderal Polisi Teladan, Dilepas dengan Penghormatan Khusus

Share this article
Almh. Meriyati Hoegeng (Istimewa)

METROHEADLINE.NET, Bogor – Suasana duka menyelimuti Perumahan Pesona Kayangan, Sukmajaya, Depok, saat jenazah Meriyati Hoegeng diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir pada Selasa pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Almarhumah, istri Kapolri kelima Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso, dilepas melalui prosesi penghormatan yang berlangsung khidmat.

Prosesi pelepasan dilaksanakan di rumah duka dan dipimpin oleh Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, Komjen Pol Wahyu Widada. Kehadiran sejumlah tokoh nasional dan pejabat tinggi Polri mencerminkan besarnya penghormatan terhadap keluarga besar Hoegeng yang dikenal luas akan integritas dan keteladanan.

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Komjen Pol Mohammad Iqbal selaku Sekretaris Jenderal DPD RI, mantan Kapolri Jenderal Pol (Purn) Badrodin Haiti, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Ratusan pelayat dari berbagai kalangan, termasuk keluarga, sahabat, dan anggota Polri, turut memadati rumah duka untuk menyampaikan doa terakhir.

Usai prosesi pelepasan, jenazah almarhumah diberangkatkan dengan pengawalan kepolisian menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Giritama, Kabupaten Bogor. Lokasi tersebut dipilih agar almarhumah dapat dimakamkan berdampingan dengan sang suami, Jenderal Hoegeng Imam Santoso, yang dikenal sebagai simbol kejujuran dan integritas dalam institusi Polri.

Upacara kebesaran Polri turut digelar di area pemakaman sebagai bentuk penghormatan institusional atas jasa dan dedikasi keluarga mendiang terhadap bangsa dan negara.

Meriyati Hoegeng wafat pada usia 100 tahun. Semasa hidup, ia dikenal sebagai sosok sederhana, setia mendampingi sang suami, serta menjadi teladan dalam menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kesahajaan.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan moral yang berharga, tidak hanya bagi keluarga besar Polri, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia yang merindukan figur-figur berintegritas.***