JAKARTA, METROHEADLINE.NET, 22 April 2026 – PT Central Omega Resources Tbk (COR) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sekaligus Paparan Publik Tahunan di kawasan Artha Graha SCBD, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Direktur PT Central Omega Resources Tbk, Andi Jaya, didampingi Direktur Feni Silviani Budiman serta Corporate Secretary Yohanes Supriyadi, memaparkan kinerja perusahaan sekaligus strategi bisnis ke depan, termasuk perkembangan sektor pertambangan nikel dan batu kapur.
Andi Jaya menyampaikan bahwa saat ini perusahaan masih menunggu proses evaluasi dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) terkait persetujuan operasional.
“Seluruh persyaratan sudah lengkap, tinggal menunggu proses evaluasi di Direktorat Jenderal Minerba yang saat ini cukup padat,” ujarnya.
Kebijakan Pemerintah dan Harga Nikel
Dalam paparannya, Andi juga menyoroti kebijakan pemerintah dalam mengatur produksi nikel nasional. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap kelebihan pasokan (oversupply) yang terjadi pada 2025, yang berdampak pada penurunan harga nikel global.
“Pemerintah mengambil langkah cepat dan tegas dengan mengatur ulang produksi nikel. Ini sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga, mengingat Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia,” jelasnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah positif dalam menjaga keseimbangan pasar serta keberlanjutan industri nikel nasional.
Cadangan dan Potensi Sumber Daya
Berdasarkan laporan per 31 Desember 2024, COR memiliki cadangan bijih nikel sebesar 93 juta ton, yang terdiri dari saprolit dan limonit dengan komposisi sekitar 80 persen. Sementara total sumber daya nikel mencapai 183 juta ton.
“Cadangan ini baru berasal dari sekitar 30 persen wilayah konsesi kami. Artinya, masih ada lebih dari 70 persen area yang berpotensi untuk dikembangkan ke depan,” ungkap Andi.
Selain itu, perusahaan juga memiliki cadangan batu kapur sebesar 29 juta ton yang tersebar di sejumlah wilayah izin usaha pertambangan (IUP).
Struktur Pemegang Saham
Manajemen COR juga memaparkan struktur kepemilikan saham perusahaan. Mayoritas saham dimiliki oleh PT Jinsheng Mining sebesar 61,63 persen, diikuti GSC sebesar 2,76 persen, dan publik sebesar 35,61 persen.
Andi menjelaskan bahwa perusahaan didirikan pada tahun 1995 dan mulai tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 1997. Pada 2008, COR melakukan transformasi bisnis dari sektor pembiayaan menjadi perusahaan pertambangan.
“Sejak 2008 hingga saat ini, kami terus memperluas kegiatan usaha melalui akuisisi perusahaan tambang. Sejak 2011, kami telah berproduksi bijih nikel, dan dalam dua tahun terakhir juga memproduksi batu kapur,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa perusahaan sempat memproduksi Nickel Pig Iron (NPI) pada periode 2018 hingga akhir 2021.
Secara geografis, wilayah operasional COR sebagian besar berada di Pulau Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tengah, Kabupaten Morowali Utara, serta sebagian di Sulawesi Tenggara.
Andi menegaskan bahwa PT Jinsheng Mining bukan merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA).
“Perlu kami sampaikan, PT Jinsheng Mining bukan PMA. Ini perusahaan nasional yang dimiliki oleh warga negara Indonesia,” tegasnya.
Kinerja Produksi dan Penjualan
Dari sisi produksi, realisasi tahun 2024 hingga 2025 relatif stabil karena mengikuti batasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah.
“Dengan strategi tersebut, kami mampu menekan biaya produksi sehingga laba kotor hingga laba bersih mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” ujar Andi.
Meski produksi cenderung stagnan, penjualan justru mengalami peningkatan signifikan. Pada 2025, penjualan mencapai sekitar 3 juta ton atau naik 16,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penjualan batu kapur juga mengalami peningkatan, meskipun kontribusinya masih relatif kecil, yakni sekitar 3 persen dari total pendapatan perusahaan.
Proyeksi Produksi 2026
Untuk tahun 2026, COR memproyeksikan produksi sebesar 1,93 juta metrik ton, sesuai dengan persetujuan RKAB dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Namun demikian, saat ini baru satu entitas anak usaha yang telah memperoleh persetujuan resmi, sementara dua lainnya masih dalam proses evaluasi.
“Secara kapasitas kami mampu memproduksi lebih, tetapi kami tetap harus patuh terhadap kuota yang ditetapkan dalam RKAB,” jelasnya.
Kinerja Keuangan
Dari sisi keuangan, COR mencatat peningkatan signifikan pada 2025 dibandingkan 2024. Pendapatan perusahaan meningkat, sementara beban pokok penjualan berhasil ditekan melalui strategi optimalisasi penjualan limonit yang memiliki biaya produksi lebih rendah dibandingkan saprolit.
Dengan strategi tersebut, perusahaan optimistis dapat menjaga pertumbuhan kinerja secara berkelanjutan di tengah dinamika industri pertambangan global.












