METROHEADLINE.NET, Jakarta – Setelah dua karya yang menjadi pintu perkenalan, Chairul S. Matdiah, anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, kini melangkah lebih jauh. Di lagu ketiganya berjudul “Mereka yang Hadir Untuk Chairul S. Matdiah”, ia tidak sekadar bernyanyi—ia bersaksi. Bersaksi tentang kesetiaan, tentang tangan-tangan yang menggenggamnya ketika hidup tak lagi seterang lampu sorot ruang sidang.
Karya ini terasa paling personal. Bukan lagu tentang ambisi, bukan pula tentang pencapaian. Ini adalah lagu tentang orang-orang yang berdiri diam-diam di belakang layar, menjadi penyangga saat dunia terasa runtuh.
Jika dua lagu sebelumnya adalah pernyataan eksistensi, maka lagu ini adalah pernyataan terima kasih.
Dari Ruang Sidang ke Ruang Perawatan
Publik mengenal Chairul sebagai pengacara dengan penampilan rapi dan argumentasi tajam. Namun hidup, seperti yang ia tuangkan dalam lirik, tak selamanya berada di puncak. Ada fase ketika tubuh melemah, ketika rasa sakit menjadi ujian yang tak bisa ditawar.
Di momen itulah nilai persahabatan menemukan maknanya.
Nama Irwan Effendi disebut dengan getar emosional. Bagi Chairul, Irwan bukan sekadar kolega, melainkan sosok “kakak” yang tak beranjak saat hari-hari panjang dijalani di ruang perawatan. Kesetiaan yang tak banyak bicara, tetapi hadir sepenuh hati.
Lagu ini seakan mengingatkan: saat kondisi tak lagi menguntungkan, yang bertahan itulah sahabat sejati.
Jejak Para Pemimpin dalam Sebuah Nada
Tak berhenti pada lingkaran terdekat, Chairul juga menyematkan sejumlah nama yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di Sumatera Selatan.
Ada Syahrial Oesman, Ishak Mekki, dan Herman Deru—figur-figur yang tak hanya dikenal sebagai pejabat publik, tetapi sebagai kawan diskusi dan saksi dinamika pengabdian.
Di ranah hukum, nama Bambang Hariyanto hadir sebagai mentor dan sahabat. Dari sosok inilah, Chairul belajar bahwa hukum bukan sekadar teks pasal, melainkan soal keadilan dan nurani.
Melalui liriknya, Chairul seperti sedang menulis arsip kecil tentang relasi, tentang perjalanan panjang yang tak mungkin ditempuh sendirian.
Palembang, Saksi Sebuah Transformasi
Lagu ini dibuka dengan latar Palembang—kota yang menjadi saksi naik-turunnya kehidupan. Dari ruang sidang yang formal menuju lorong sunyi yang penuh refleksi.
Ujian sakit menjadi titik balik. Dalam liriknya, Chairul menyebut hadirnya “tangan-tangan Tuhan”—sebuah metafora tentang bagaimana pertolongan sering datang melalui manusia. Dari sahabat, mentor, hingga mereka yang sekadar memberi dukungan tanpa pamrih.
Narasi lagu kemudian mengalir pada perubahan cara pandang. Jika dulu hidup identik dengan gemerlap dan pencapaian, kini makna ditemukan dalam kesederhanaan: “nasi hangat yang diberi tiap pagi” menjadi simbol berbagi dan sedekah.
Di situlah transformasi itu terjadi. Dari mengejar materi menuju menjemput berkah.
Lagu tentang Kerendahan Hati
“Mereka yang Hadir Untuk Chairul S. Matdiah” bukan hanya daftar nama dalam bait-bait lagu. Ia adalah pengakuan jujur bahwa kesuksesan adalah hasil gotong royong nilai, dukungan, dan doa.
Chairul menyampaikan bahwa fokus utama lagu ini adalah kesetiaan. Bahwa di balik ketangguhan seseorang, selalu ada sistem dukungan yang luar biasa.
Pesan yang ingin ia titipkan sederhana namun dalam: jangan lupa jasa, jangan abai pada mereka yang pernah menggenggam tangan saat kita hampir terjatuh.
Di tengah era serba cepat yang sering mengagungkan pencapaian individual, lagu ini hadir sebagai pengingat—tak ada manusia yang benar-benar berdiri sendiri.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.***












