Jakarta, Metroheadline.net – Meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri akibat persoalan buku dan alat tulis menjadi peringatan atau alarm perlindungan anak. Peristiwa itu menjadi sorotan segenap jajaran pengurus dan anggota Brigade Nusantara (BRINUS) seluruh Indonesia.
Ketua Umum DPN Brinus Endri Hendra Permana menilai peristiwa tersebut menunjukkan perlindungan sosial anak dalam kebijakan pendidikan belum berjalan optimal.
“Ketika kebijakan pendidikan tidak sensitif terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga, anak justru berada pada posisi paling rentan dan berpotensi mengalami tekanan psikologis,” kata Endri.
Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak, bukan tempat yang memicu kecemasan akibat persoalan non-akademik yang sebenarnya dapat diselesaikan secara bijak.
Perlindungan sosial anak tidak cukup dimaknai sebagai bantuan, tetapi jaminan agar anak bisa tumbuh, belajar, dan berkembang tanpa tekanan yang mengancam kesehatan mental maupun keselamatannya,” ujar pria yang akrab dipanggil bang ketum.
Menyikapi peristiwa ini Brinus menekankan perlunya kebijakan pendidikan yang lebih berpihak pada kepentingan terbaik anak, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan negara agar lingkungan pendidikan tetap aman, inklusif, dan berkeadilan. (red)












